Seiring dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik (EV) di Asia, ancaman kebakaran baterai EV telah menjadi perhatian serius, mendorong pemerintah untuk mengembangkan regulasi keselamatan yang lebih ketat. Meskipun statistik menunjukkan bahwa insiden kebakaran EV relatif jarang dibandingkan dengan mobil berbahan bakar fosil, potensi bahaya dari kebakaran baterai yang intens dan sulit dipadamkan memerlukan tindakan pencegahan yang kuat. Kecelakaan ini tidak hanya menimbulkan risiko bagi pengemudi dan penumpang tetapi juga bagi infrastruktur dan lingkungan.
Penyebab kebakaran baterai EV seringkali berkaitan dengan kerusakan fisik baterai akibat benturan, overcharging, cacat manufaktur, atau masalah termal. Ketika sel baterai rusak, dapat terjadi “thermal runaway”, di mana suhu internal baterai meningkat secara drastis dan tidak terkendali, menyebabkan api atau ledakan. Tingginya energi yang tersimpan dalam baterai EV membuat kebakaran ini sangat berbahaya dan memerlukan penanganan khusus.
Menanggapi hal ini, negara-negara Asia sedang memperketat regulasi keselamatan baterai EV. Ini mencakup standar yang lebih ketat untuk pengujian baterai, sistem manajemen termal (BMS) yang lebih canggih, dan desain struktural kendaraan yang lebih baik untuk melindungi paket baterai dari benturan. Produsen juga diwajibkan untuk menyediakan informasi yang jelas tentang penanganan darurat bagi petugas pemadam kebakaran, termasuk lokasi baterai dan prosedur pemadaman yang aman.
Selain regulasi, inovasi teknologi juga memainkan peran kunci. Riset terus dilakukan untuk mengembangkan baterai yang lebih aman, seperti baterai solid-state yang menjanjikan stabilitas termal yang lebih baik. Pendidikan bagi pengguna tentang praktik pengisian daya yang aman dan pemeliharaan kendaraan yang benar juga penting. Dengan pendekatan multi-faceted yang melibatkan regulasi, teknologi, dan edukasi, Asia dapat memastikan bahwa pertumbuhan EV berjalan seiring dengan standar keselamatan tertinggi.

