Penjualan melalui live stream telah menjadi fenomena dominan dalam e-commerce Tiongkok, menggunakan teknik “hype” untuk mendorong pembelian impulsif dan menciptakan permintaan massal. Teknik ini, yang mengandalkan diskon kilat, interaksi real-time yang intens, dan fear of missing out (FOMO), kini dicoba direplikasi di Korea Selatan dan pasar Asia lainnya.
Kunci keberhasilan di Tiongkok adalah peran key opinion leaders (KOLs) atau streamer selebriti yang dapat menarik jutaan penonton sekaligus. Mereka membangun kepercayaan melalui ulasan produk yang tampak jujur dan kemampuan menghibur, mengubah sesi belanja menjadi acara hiburan yang menarik.
Di Korea Selatan, replikasi model ini berfokus pada integrasi live stream dengan platform fashion dan kecantikan yang sudah ada, memanfaatkan popularitas influencer K-Beauty. Namun, ada penyesuaian untuk selera konsumen Korea yang mungkin lebih menghargai informasi detail dan kualitas produk daripada diskon impulsif semata.
Tantangan utama dalam mereplikasi model Tiongkok adalah membangun skala dan mengatasi masalah otentisitas produk. Diperlukan teknologi back-end yang kuat untuk mengelola inventaris yang berfluktuasi cepat, pembayaran, dan logistik last-mile yang efisien.
Secara keseluruhan, e-commerce live stream mengubah cara belanja di Asia, menjadikannya pengalaman sosial dan interaktif. Keberhasilan model ini bergantung pada seberapa baik pasar lokal dapat menyeimbangkan antara teknik penjualan yang agresif (“hype”) dengan jaminan kualitas dan kepercayaan konsumen.

